Jumat, 29 Oktober 2010

Pertempuran 10 November DI Surabaya

 Pertempuran ini merupakan pertempuran yang sangat besar yang terjadi di Surabaya.  Diawali dengan kedatangan sekutu tanggal 25 Oktober 1945 ke Surabaya di bawah pimpinan Jendral A W S Mallaby.  Awalnya kedatangan Sekutu ini diterima baik oleh rakyat Indonesia, tetapi kemudian tentara Sekutu mulai menguasai gedung-gedung penting yang ada di sekitar pelabuhan, membebaskan tawanan yang dipenjara oleh pihak Indonesia, dan melakukan patroli keliling kota. 
Hal ini menyulut kemarahan rakyat Surabaya.  Maka terjadilah kontak senjata pada tanggal 25 Oktober 1945.  Penyebab kontak senjata ini adalah karena pihak Sekutu terus menerus melakukan patroli keliling kota tanpa mengindahkan tuntutan pihak Indonesia.  Selain itu pihak Sekutu memaksa rakyat Indonesia menyerahkan senjatanya.  A W S Mallaby dengan sombong menyatakan bahwa sejak tanggal 27 Oktober 1945 kota Surabaya menjadi tanggung jawab Sekutu.
Kontak senjata paling sengit terjadi pada tanggal 30 Oktober 1945 dimana tentara Gurkha (tentara bayaran Sekutu) menembaki rakyat.  Terjadilah pertempuran antara tentara Gurkha dengan arek-arek Suroboyo.  Dalam pertempuran ini A W S Mallaby tewas. 
Setelah tewasnya A W Z Mallaby, penggantinya Mayor Jendral Mansergh mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya.  Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjata di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas.  Batas ultimatum adalah pukul 06.00 padi tanggal 10 November 1945.  Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia, sebab Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga sudah dibentuk.  Selain itu banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar.  Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai bentuk tekad bersama untuk membela negara, untuk melucuti pasukan Jepang dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda.
            Pada tanggal 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dashyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.  Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi buta dengan meriam laut dan darat.  Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka.  Tetapi perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.
Pihak Sekutu menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.  Namun di luar dugaan, ternyata perlawanan itu masih bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari dan dari minggu ke minggu.  Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur.  Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampat sebulan, sebelum seluruh kota jatuh ke tangan Sekutu.  Peristiwa berdarah di Surabaya ini juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.  Banyak pejuang yang gugur dan rakyat menjai korban ketika tiulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.  Pejuang yang terkenal dalam peristiwa ini adalah Bung Tomo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar